Categories
Sains

Mahkluk Terakhir yang Hidup di Bumi, Ini Kandidatnya?

BERLIN – Menentukan hewan terakhir di Bumi merupakan pertanyaan yang sulit dan spekulatif karena bergantung pada banyak faktor yang tidak diketahui.

Namun, berdasarkan pemahaman kita saat ini mengenai biologi dan peristiwa kepunahan massal, beberapa kemungkinan kandidat telah muncul.

Mikroorganisme ini, juga dikenal sebagai “beruang air”, dikenal karena ketahanannya yang luar biasa terhadap kondisi ekstrem. Mereka tahan terhadap suhu panas dan dingin yang ekstrim, paparan radiasi yang tinggi, dan dehidrasi yang berkepanjangan.

Mereka memiliki kemampuan untuk memasuki keadaan kriptobiotik di mana metabolisme mereka terhenti, memungkinkan mereka bertahan hidup selama bertahun-tahun tanpa makanan atau air.

Nematoda: Makhluk ini juga sangat kuat dan dapat ditemukan di berbagai habitat, termasuk tanah, air tawar, dan air asin. Mereka mampu bertahan dalam kondisi yang keras seperti radiasi tinggi, suhu ekstrem, dan kekurangan makanan.

Kecoa: Serangga ini dikenal karena kemampuannya beradaptasi dan bertahan hidup di lingkungan yang keras. Mereka adalah omnivora dan bisa makan berbagai macam makanan. Kecoak juga tahan terhadap radiasi dan dikenal mampu bertahan hidup dalam peristiwa nuklir.

Perlu dicatat bahwa ini hanyalah beberapa contoh, dan banyak hewan lain yang mungkin juga memiliki peluang untuk bertahan hidup di masa depan.

Pada akhirnya, hewan terakhir yang bertahan hidup di Bumi mungkin adalah hewan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan dan paling tidak rentan terhadap ancaman seperti kepunahan massal.

Selain faktor biologis, kejadian acak juga dapat berperan dalam menentukan hewan mana yang pada akhirnya akan bertahan.

Misalnya, sebuah asteroid yang menghantam Bumi dapat memusnahkan sebagian besar spesies, namun secara tidak sengaja meninggalkan satu spesies yang kebetulan berada di tempat dan waktu yang tepat.

Oleh karena itu, tidak mungkin memprediksi secara akurat hewan mana yang akan menjadi yang terakhir di Bumi.

Categories
Sains

5 Fakta Quokka, Hewan Paling Bahagia di Bumi yang Selamat Karena Foto Selfie

AUSTRALIA – Quokka dikenal sebagai hewan paling bahagia di dunia karena ‘senyumannya’.

Quokka, hewan unik Australia Barat, berhasil mengalahkan hewan lain seperti anjing dalam kategori paling bahagia.

Apa itu Quoca? Quokka (Setonix brachyurus) merupakan mamalia yang termasuk dalam famili kanguru dan walabi (Macropodidae). Hewan berkantung berbulu ini memiliki telinga bulat dan tubuh seukuran kucing kecil.

Beratnya mencapai 5 kg dan panjangnya antara 16-21 inci (40,64-53,34 sentimeter).

Populasi quoka, yang tercantum dalam Buku Merah Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam, telah menurun selama dekade terakhir.

Rubah di daratan Australia mengancam Quokka. Untungnya, hewan-hewan kecil ini mendapat perlindungan karena mereka hidup terutama di Pulau Rottnest dan Pulau Bald.

5 fakta tentang Quokka

Berikut beberapa fakta menarik tentang hewan paling bahagia di dunia:

1. Salah mengira hewan pengerat Dia menyebut rumah mereka Pulau Rottnest, yang jika diterjemahkan berarti “sarang tikus”.

2. Merupakan hewan nokturnal (aktif pada malam hari). Dan saat mereka benar-benar tidur, mereka bisa tidur sambil duduk di bawah tanaman Acanthocarpus preissii.

3. 5 bulan di dalam kantong induk Mamalia ini menghabiskan lima bulan pertama hidupnya di dalam kantong induknya. Seperti kanguru. Pejabat Kebun Binatang Adelaide mengatakan mereka sedang “menjelajahi dunia” pada saat itu.

4. Melompat Seperti kelinci, quokka melompat untuk berjalan atau bergerak.

5. Herbivora Kumbang berperut dua memakan daun dan rerumputan. Mereka juga dapat bertahan hidup selama beberapa waktu tanpa makan atau minum air.

Disimpan oleh Foto Selfie

Status Quokka sebagai hewan paling bahagia membuat mereka menjadi bintang media sosial. Orang-orang berbondong-bondong ke Rottnest untuk berfoto dengan quokka untuk tertawa tanpa henti.

Orang-orang tidak hanya mengambil foto selfie lucu dari perjalanan ini, tetapi mereka juga membantu menyelamatkan Quokka.

Popularitas quokka telah menyebabkan peningkatan pariwisata ke Pulau Rottnest dan Pulau Bald. Pulau ini menginvestasikan kembali dana tersebut untuk penelitian kesejahteraan hewan.

“Ketika populasi Quokka kembali membengkak dengan adanya bayi-bayi baru, pulau ini akan melakukan selfie untuk mengucapkan terima kasih,” kata direktur eksekutif pulau tersebut, Michelle Reynolds, kepada People.

“Ini benar-benar menarik perhatian dunia terhadap spesies mamalia paling menakjubkan dan memberi kita kesempatan untuk melihat mereka dari dekat di habitat aslinya.”