Categories
Lifestyle

5 Penyakit yang Sering Muncul setelah Lebaran dan Cara Mencegahnya

JAKARTA – Karena berbagai faktor, beberapa penyakit biasanya muncul setelah hari raya. Salah satunya adalah konsumsi makanan tinggi lemak seperti rendang, ayam oror, dan aneka kue kering secara berlebihan, serta rasa lelah.

Hal ini tidak mengherankan karena sebagian orang kerap menjadikan Idul Fitri sebagai bentuk balas dendam setelah berpuasa selama sebulan. Oleh karena itu, banyak orang yang merasa gila karena mengonsumsi begitu banyak makanan yang berbeda-beda, sehingga dapat memicu berbagai penyakit.

Akibatnya, perayaan tersebut terganggu oleh epidemi yang berulang. Selain itu, padatnya aktivitas saat Idul Fitri juga membuat sebagian orang merasa lelah dan kesehatannya menurun.

Penyakit umum setelah Tet dan cara mencegahnya

Berikut penyakit paling umum pasca-liburan dan cara mencegahnya, berdasarkan laporan Health Line, Kamis (11/4/2024).

1. Infeksi saluran pernafasan

Saat mengunjungi keluarga dan kerabat saat hari raya, penyebaran virus dan bakteri dapat menyebabkan penyakit flu, pilek, dan infeksi saluran pernapasan lainnya.

2. Gangguan pada sistem pencernaan

Mengonsumsi makanan yang terlalu banyak atau tidak sehat saat hari raya dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti diare, sembelit, dan sakit perut.

3. Dehidrasi

Aktivitas liburan yang padat, terutama di luar ruangan dan cuaca panas, dapat menyebabkan dehidrasi jika kurang minum air putih.

4. Kelelahan dan stres

Persiapan dan perayaan liburan dapat melelahkan secara fisik dan membuat stres emosional bagi sebagian orang.

Categories
Kesehatan

Mengungkap Bahaya Ultra Processed Food Bagi Kesehatan

tonosgratis.mobi, Jakarta – Di zaman modern ini, pekerjaan dan gaya hidup seringkali mendorong masyarakat untuk memilih makanan yang praktis dan mudah disiapkan. Salah satu jenis makanan yang menjadi pilihan adalah makanan ultra olahan.

Jenis makanan ini memberikan kenyamanan dan rasa, namun dibalik itu ada bahaya tersembunyi bagi kesehatan Anda.

Banyak penelitian terbaru menunjukkan bahwa makanan ultra-olahan yang banyak dikonsumsi dapat berbahaya bagi kesehatan. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Preventive Medicine pada November 2022 memperkirakan makanan tersebut berkontribusi terhadap 10 persen kematian pada tahun 2019 pada orang berusia 30 hingga 69 tahun, seperti dilansir Time, Jumat (23/2/2024).

Studi lain yang diterbitkan di Neurology pada Juli 2022 menemukan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra-olahan meningkatkan risiko demensia sebesar 10 persen. Temuan ini menunjukkan bahwa makanan ultra-olahan dapat berakibat fatal dan harus dihindari untuk menjaga kesehatan jangka panjang.

Berbeda dengan makanan seperti telur mentah yang tidak melalui proses apapun untuk sampai ke konsumen, makanan ultra-olahan telah melalui serangkaian proses hingga akhirnya dikonsumsi. Jika Anda melihatnya di rak supermarket, makanan tersebut telah mengalami proses pemanasan, tekanan, dan penambahan berbagai bahan tambahan untuk meningkatkan tatanan, rasa, dan penampilannya, namun dapat berbahaya bagi kesehatan Anda.

Makanan ultra-olahan sering kali digolongkan sebagai junk food atau makanan rendah nutrisi karena rendah serat, gula, dan kalori. Namun definisi makanan ultra-olahan didasarkan pada jenis bahannya, bukan kandungan nutrisinya. Artinya kategori ini juga dapat mencakup makanan dengan nutrisi bermanfaat, seperti roti berserat tinggi.

Pada makanan ultra-olahan, bukan hanya kandungan nutrisinya yang membuat makanan ini tidak sehat. Sebuah studi tahun 2019 membagi 20 orang ke dalam pola makan dengan jumlah kalori, gula, lemak, serat, dan zat gizi mikro yang sama. Satu kelompok mengonsumsi makanan ultra-olahan, kelompok lainnya mengonsumsi lebih sedikit makanan olahan. Hasilnya, orang yang mengonsumsi makanan ultra-olahan mengalami kenaikan berat badan, sedangkan kelompok lainnya mengalami penurunan berat badan.

Para peneliti telah mengajukan beberapa teori untuk menjelaskan hubungan antara konsumsi makanan ultra-olahan dan obesitas. Salah satu teori yang dikembangkan oleh Eduardo A.F. Nilson, peneliti di Universitas São Paulo, Brazil, menjelaskan bahwa mengonsumsi makanan ultra-olahan benar-benar mengubah cara makan orang.

Makanan ultra-olahan ini menggantikan makanan rumahan, makanan ringan yang tinggi energi dan mudah dimakan. Nielson menjelaskan, hidangan ini sengaja dibuat terlalu matang, sangat manis, sangat asin, dan siap disantap, sehingga menggantikan pola makan tradisional.

Pakar lain mengatakan salah satu bahaya makanan ultra-olahan adalah mendorong orang untuk makan dengan cepat. Hal ini diduga terjadi karena makanan ultra-olahan mudah dicerna dan tidak menyebabkan otak kenyang.

Para ahli kini mempelajari lebih lanjut tentang proses konsumsi makanan ultra-olahan di saluran pencernaan. Namun hingga saat ini, para ahli menemukan bahwa bahan kimia tertentu dalam makanan ultra-olahan, terutama pengemulsi, dapat mengganggu mikroba usus yang berperan penting dalam mengirimkan sinyal kenyang ke otak. Hal ini menyebabkan orang makan lebih banyak dari yang mereka butuhkan.

Para ahli sepakat bahwa mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan bukanlah satu-satunya tanggung jawab masyarakat. Nilson menjelaskan bahwa banyak orang tidak memiliki akses terhadap makanan sehat, dan makanan tersebut seringkali lebih mahal dibandingkan makanan ultra-olahan.

Nilson berpendapat bahwa pemerintah harus menerapkan kebijakan untuk memperluas akses terhadap makanan sehat untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan.

Nilson juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam melindungi masyarakat dari bahaya pangan olahan. Kebijakan yang penting adalah memberikan peringatan dan menerapkan label yang jelas pada produk makanan. Contoh negara yang telah menerapkan kebijakan ini adalah Kanada yang mewajibkan label pada makanan kemasan, termasuk informasi kandungan natrium, gula, dan lemak jenuhnya.

Selain itu, Health Canada telah menambahkan peringatan tentang bahaya makanan ultra-olahan ke dalam panduannya dalam memilih makanan sehat.

Kunci makan sehat adalah mengubah pola pikir Anda. Kita perlu mengalihkan fokus kita dari kalori ke kualitas makanan. Untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-olahan, para ahli menyarankan untuk memilih alternatif yang murah dan mudah seperti lentil dan telur. Hal ini juga berlaku pada snack atau makanan yang kita makan setiap hari.