Categories
Kesehatan

Anak Donny Kesuma Ungkap Kondisi Ayahnya Sebelum Meninggal, Dokter Sempat Lakukan Pompa Jantung

tonosgratis.mobi, Jakarta – Aktor Donny Kesuma meninggal dunia pada Selasa malam, 19 Maret 2024 saat menjalani perawatan di ICU RS Premaya Bekasi akibat serangan jantung. Putranya Ghassan berbicara tentang peran bintang film ‘Buya Hamka’ di Indira Kesu.

Saat ditemui di rumah duka, Ghassan menceritakan bahwa kesehatan Donny Kesuma sudah membaik selama dirawat di ICU, “Kemarin alhamdulillah saya mendapat kabar ayah saya sudah sembuh, alhamdulillah.” Obatnya berkurang. Tapi Allah berfirman. Rencana lain.”

Pada Selasa malam, Ghassan mendapat kabar bahwa kondisi ayahnya semakin memburuk. Ketika penyakitnya memburuk, dokter meresepkan obat dengan dosis yang lebih tinggi. Ghasan Indira mengatakan, ‘Dosis obat yang diberikan ada batasnya dan tidak dapat ditingkatkan.

“Jadi, pada akhirnya kami mengamati tekanan darahnya selama beberapa menit, dan kemudian kami melihatnya turun,” tambahnya.

Ghassan juga mengatakan, pihak keluarga dan dokter sepakat untuk memompa jantungnya secara manual dalam 20 menit terakhir. Namun setelah 20 menit, bapaknya tidak bisa membantu, ujarnya pada Rabu, 20 Maret 2024 pagi dari Kapanlagi.

Menurut putranya, tim dokter tak hanya merawatnya, tapi juga membuatkan pompa jantung untuk Doni Kesuma. Anak-anaknya melihat apa yang dilakukan tim medis.

“Kami semua mempunyai anggota keluarga, kami mempunyai perasaan yang berbeda-beda,” kata Ghassan.

 

Ghassan mengaku sedih dengan kondisi ayahnya. Dalam ingatanku, jika ayah mereka masih hidup, mereka punya rencana lain.

“Seharusnya kita bahagia dulu, berangkat Idul Fitri, jalan-jalan, buat rencana, tapi keadaan Allah lain,” ujarnya.

“Iya semua sedih. Tadi kakak saya juga minta maaf atas kesalahannya, karena kakak saya anak pertama, jadi harusnya dia bertanggung jawab,” imbuhnya.

Meski begitu, anak-anak Donnie Kesuma sudah menerima sepenuhnya kepergian ayahnya. Dia berkata, “Kami jujur.

Jenazah Donnie Kesuma dimakamkan pada Rabu, 20 Maret 2024 di rumah duka di Bekasi, Kawasan Galaksi dengan rencana pemakaman di Tempat Pemakaman (TPU) Tanah Kusir. Namun penguburannya belum dapat dikonfirmasi, kata Ghassan. Rencananya saat ini Tanah Kusir akan dikuburkan di TPU Kusir.

Categories
Kesehatan

Melisha dan Melitha Sidabutar Lahir hingga Meninggal Dunia Sama-Sama di Tanggal 8, Netizen: Selamat Bertemu di Surga

tonosgratis.mobi, Jakarta – Melita Sidabuteri, penyanyi soul, meninggal dunia pada Senin, 8 April 2024. Berdasarkan diagnosa dokter, Melita Sidabutari diketahui meninggal karena gagal jantung. Ronald, “Diagnosa dokternya gagal jantung. Ini dari dokter.”

Kehilangan Melita Siddabutari yang meninggal dalam usia muda di usia 23 tahun tidak hanya dirasakan oleh keluarga, orang-orang terkasih, dan sahabatnya, tetapi juga para penggemarnya yang terinspirasi oleh bakat dan dedikasinya di dunia musik. .

Kabar meninggalnya Melita Sidabutari menghebohkan netizen hingga membuat mereka terpana saat mengetahui kematiannya juga terjadi pada tanggal 8, sama seperti saudara kembarnya Melisha Sidabutari.

Melisha meninggal pada 8 Desember 2022 akibat radang jantung di usia 19 tahun.

Tak cocok tanggal keberangkatannya, Melisha dan Melita Sidabuteri juga lahir pada 8 Januari 2001.

Saat mengikuti audisi di sebuah acara pencarian bakat, Melissa pernah bercerita kepada Rosa, Giudica, dan Ari Lasso bahwa mereka menjadi saudara kembar hanya dalam waktu dua menit.

“Melisha lahir tanggal 8, meninggal tanggal 8, dan Melita hari ini tanggal 8. Memang benar kalian bersama tanpa hasil. Istirahatlah dengan tenang, jiwa yang indah,” pungkas @adindageem dengan tangis, patah hati, dan merpati.

 

 

Tangkapan layar dari komentar itu dibagikan di Twitter dan menjadi viral. Mereka yang membacanya terkesima dengan kenyataan bahwa si kembar bersuara merdu ini selalu bersama sejak lahir hingga Tuhan memanggil mereka.

“Semuanya tidak terjadi secara kebetulan, tapi ini rencana Tuhan,” cuit netizen lainnya.

“Mungkin angka 8 artinya tak terpisahkan. Senang bertemu kalian di surga Melisha dan Melita,” pungkas akun @dinaclaudya sambil menangis.

“8 lambangnya tak terhingga yang artinya tak terhingga,” balas akun @poyayan13.

 

Komentar tersebut muncul dalam unggahan Melita saat menjadi tamu di podcast YouTube “Anugera Ministries”.

Dalam kesempatan tersebut, Melita bercerita tentang pengalaman kehilangan saudara kembarnya yang menimbulkan kesedihan yang luar biasa.

Melita mengungkapkan, suatu saat ia harus berkhayal bahwa saudara kembarnya masih hidup dan saudara kembarnya hanyalah mimpi.

Dalam momen tersebut, duka yang dialaminya begitu mendalam, dan perjalanan kehilangannya menjadi bagian penting dalam kisah hidupnya yang dibagikan melalui podcast.

Netizen menyampaikan belasungkawa dan memuji kekuatan serta ketangguhan keluarga dalam menghadapi cobaan ini.

Kisah dua saudara kembar yang dipisahkan oleh takdir namun terikat oleh ikatan emosional menyentuh banyak hati dan menyentuh banyak jiwa.

“Tunjukkan suara manismu di surga Melisha dan Melita,” kata netizen.

“Berikan ketabahan kepada keluarga yang telah meninggal, selamat tinggal gadis cantik berhati lembut dan bertaqwa besar kepada Tuhan,” sahut yang lain. 

Menurut Ronald, Melita dirawat di RS Eka pada Senin pagi dan meninggal tak lama kemudian.

Saat ditanya jam berapa Melita dibawa ke rumah sakit, Ronald menjawab: “Sebelum jam 10.00 pasti.”

Categories
Kesehatan

14.364 Petugas Pemilu Dirawat, Mayoritas Berumur 21 hingga 30 Tahun karena Gangguan Pencernaan

tonosgratis.mobi, Jakarta – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mengumumkan pada Sabtu, 24 Februari 2024, sebanyak 14.364 petugas pemilu dirawat karena berbagai keluhan kesehatan. Pasien terbanyak merupakan anggota KPPS yang berjumlah 7.221 orang, disusul petugas (1.779 orang), dan anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) sebanyak 1.040 orang.

Jumlah pasien lainnya berasal dari saksi (1.331 orang), anggota Perlindungan Masyarakat/LINMAS (1.122 orang), anggota Badan Pengawas Pemilu (BEWASU) 693 orang, dan KPU Kabupaten (509 orang).

Berdasarkan usia, terdapat 858 pasien berusia antara 17-20 tahun, 4024 pasien berusia antara 21-30 tahun, 3351 pasien berusia antara 31-40 tahun, 3608 pasien berusia antara 41-50 tahun, 2098 pasien berusia antara 51-60 tahun. tahun dan 42 pasien. 60 tahun.

Mereka digunakan untuk mengobati berbagai penyakit seperti gangguan sistem pencernaan, tekanan darah tinggi, infeksi saluran pernapasan atas, penyakit jaringan lunak, pneumonia, infeksi usus dan penyakit telinga bagian dalam. 114 petugas pemilu tewas

Sementara jumlah petugas pemilu yang meninggal mencapai 114 orang hingga Kamis, 22 Februari 2024. Rinciannya sebagai berikut: Organisasi Kelompok Pemungutan Suara (KPPS) 58 orang, Linmas Keamanan Masyarakat (LINMAS) 20 orang, Pejabat 12 orang, Saksi 9 orang, Badan Pengawas Pemilu (Bewaslu) 6 orang, dan 3 orang dari Panitia Pemungutan Suara (PPS. ) Dari.

Sementara itu, empat petugas berusia antara 17-20 tahun, tujuh petugas berusia antara 21-30 tahun, 19 petugas berusia antara 31-40 tahun, dan 30 petugas berusia antara 41-50 tahun 34 petugas berusia antara 51-60 tahun. tahun. , dan empat petugas berusia di atas 60 tahun.

Berdasarkan data Health tonosgratis.mobi dari Kementerian Kesehatan RI, penyebab kematian tertinggi petugas pemilu adalah: Penyakit jantung (30 kasus) Kematian saat kedatangan (13 kasus) Hipertensi (9 kasus) Kecelakaan (9) Syok septik (8) Gangguan pernapasan akut dan gangguan saraf (6) Diabetes (4) Kematian jantung mendadak dan gagal multi organ (masing-masing 2) Asma, gangguan pernapasan, dehidrasi, tuberkulosis paru, dan gagal ginjal kronik (masing-masing 1) Kematian 14 lainnya masih ada dikonfirmasi karena

Angka kematian tertinggi tercatat di Jawa Barat (27), Jawa Timur (24), Jawa Tengah (16), DKI Jakarta (9), Sulawesi Selatan (7), Banten (6), Kalimantan Barat (3).

Dua petugas pemilu masing-masing di Sumut, Riau, Sumsel, Lampung, dan Gorontalo tewas. Sedangkan petugas meninggal masing-masing satu orang di Sumbar, DI Yogyakarta, Kaltim, Kalteng, Maluku, Sulut.